Provinsi Bengkulu yang terletak di pesisir pantai barat Sumatera memang tidak berada di lokasi yang strategis, tidak seperti bandar Lampung, Sumatera Utara,Sumatera Barat bahkan bisa kalah dengan ketenaran pulau mentawai.
Jika berbicara tentang aset budaya atau aset Wisata Bengkulu memiliki banyak potensi. Tapi potensi hanya sebatas Potensi tanpa ada gerakan nyata untuk pemanfaatanya.
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon ke Bengkulu, mengunjungi Benteng Malaborohg, mengunjungi rumah pengasingan Soekarno dikelurahan Anggut.
Dan berita di Bengkulu tentang Kunjungan menteri berjamur dengan judul Menteri Kebudayaan Mengajak Masyarakat Indonesia berkunjung ke Bengkulu.
Lucu, ketika ada kunjungan menteri semua fokus dengan objek yang di kunjungi. Kenapa tidak kita bergerak mandiri mempromosikan objek wisata Bengkulu tanpa di hantui dengan kunjungan pejabat.
Bengkulu dengan objek wisata yang tidak kalah indah dengan daerah lain tapi kalah dengan pulau Nias yang banyak dikunjungi wisatawan manca negara. Kenapa bisa ?
Dari tahun ke tahun Bengkulu minim promosi ke luar daerah, kalaupun ada promosi biasanya hanya di tayang menjelang pelaksanaan kegiatan.
Contoh festival Tabot, kegiatan festval Tabot hanya dipromosikan 2 minggu menjelang pelaksanaan, nah jika seperti itu tentu saja promosi hanya sebatas lepas tugas yang dikerja seadanya saja.
Kunjungan wisatawan (Bule ) ke Bengkulu bisa dihitung dengan jari, padahal Bengkulu memiliki sumber daya manusia yang handal dan influenzer serta konten kreator terkenal banyak di Bengkulu dan mampu mengerakan wajah Wisata Bengkulu lebih dikenal di dunia internasional, Apakah tidak ada instansi yang tergerak merangkul mereka untuk membangun Bengkulu melalui media sosial.
Media sosial menembus ruang dan waktu , seharusnya dapat di manfaatkan semaksimal mungkin apalagi biaya untuk media sosial sangat kecil hanya tergantung niat mau atau tidak bekerja untuk membangun Bengkulu.
Catatan Heryandi Amin
Kunjungan Fadlu Zon 25/02/2026














