Saya menyaksikan perubahan itu dengan mata kepala sendiri. Bukan dari jarak aman tribun kehormatan, tapi dari bangku plastik di teras rumah warga dari obrolan panjang di mobil malam hari dan dari diskusi sederhana yang kadang berakhir dengan kopi dingin. Jauh sebelum Pemilihan Gubernur 2024, saya sudah menemani Gubernur Helmi Hasan. Dan satu hal yang konsisten saya lihat ia selalu mau mendengar bahkan ketika yang didengar itu pahit.
Gubernur Helmi Hasan bukan tipe pemimpin yang alergi kritik. Ia justru tampak “hidup” saat rakyat bercerita. Ia mendengar, merasakan, lalu mencari jalan keluar. Tidak semua solusi langsung sempurna, tapi selalu ada upaya. Ketika ia dilantik menjadi Gubernur Bengkulu, saya tahu satu hal orangnya sama, hanya tanggung jawabnya yang bertambah besar.
Perubahan itu kini mulai terasa. Jalan-jalan yang dulu bikin pengendara berdoa, kini makin mulus dan ramah dompet bengkel. Infrastruktur yang membaik ikut menggerakkan ekonomi warung hidup, pasar ramai dan roda usaha kecil berputar lebih lancar. Data BPS 2025 mencatat pertumbuhan ekonomi Bengkulu yang positif, sementara Indeks Pembangunan Manusia terus naik. Angka-angka ini bukan sekadar statistik; ini cerita tentang dapur yang kembali mengepul dan anak-anak yang tetap sekolah tanpa rasa cemas.
Program-program gratis di bidang pendidikan dan kesehatan menjadi bukti bahwa negara hadir tanpa banyak basa-basi. Helmi menjalankannya dengan gaya khas sederhana, komunikatif dan sering diselipi humor ringan. Ia hadir di kegiatan sosial dan keagamaan bukan untuk formalitas, tapi untuk menjaga ikatan batin dengan masyarakat.
Bagi saya, ini bukan sekadar kisah kepemimpinan, tapi pelajaran. Bahwa perubahan besar bisa lahir dari kebiasaan kecil mau mendengar, mau turun dan mau bekerja. Bengkulu hari ini belum sempurna, tapi jelas sedang bergerak. Dan saya bangga bisa berkata saya ada di sana, menyaksikannya sendiri.
Catatan Riswan













