20 Februari 2026
Tepat hari ini, 20 Februari 2026, genap satu tahun kepemimpinan Helmi Hasan di Bengkulu. Satu tahun mungkin terdengar singkat dalam kalender politik, tetapi cukup untuk membaca arah.
Muncul istilah yang mulai sering disebut Helmi Effect. Apakah ini hanya semangat tahun pertama, atau benar-benar perubahan kebijakan yang terasa?
Kita mulai dari data berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), sebelum periode ini pertumbuhan ekonomi Bengkulu bergerak stabil di kisaran 4–5 persen, dengan struktur ekonomi bertumpu pada pertanian, perdagangan dan konstruksi. Kemiskinan masih dua digit dan ruang fiskal APBD cenderung sempit karena belanja rutin lebih dominan dibanding belanja produktif.
Memasuki 2025, kompas fiskal mulai digeser. APBD Provinsi Bengkulu di kisaran Rp3 triliun lebih diarahkan lebih tajam pada infrastruktur dan pelayanan publik. Ratusan miliar rupiah dialokasikan untuk pembangunan dan rehabilitasi jalan provinsi. Ini bukan sekadar proyek aspal. Dalam teori perencanaan pembangunan, langkah ini dikenal sebagai infrastructure led growth.
Jalan mulus menurunkan biaya logistik, mempercepat distribusi hasil pertanian dan memperluas akses pasar. Karena sektor pertanian dan perdagangan adalah penyumbang utama PDRB Bengkulu, maka konektivitas menjadi kunci. Namun “Helmi Effect” tidak berhenti di jalan.
Melalui Program Bantu Rakyat, pendekatan pembangunan menjadi lebih membumi. BPJS gratis dengan capaian Universal Health Coverage (UHC) 100 persen menjadi salah satu prestasi paling terasa. Dari perspektif ekonomi rumah tangga, ini penting karena pengeluaran kesehatan sering menjadi pintu masuk kemiskinan baru. Dengan perlindungan menyeluruh, risiko itu ditekan.
Ambulans gratis yang menjangkau desa-desa memperkecil kesenjangan layanan dasar. APBD tidak lagi sekadar angka di dokumen, tetapi mulai hadir dalam kehidupan sehari-hari warga.
Di sisi lain, keberhasilan mulai tampak pada dorongan hilirisasi. Bengkulu yang selama ini dikenal sebagai penyuplai komoditas mentah sawit, batu bara, hasil pertanian mulai mengarahkan kebijakan pada peningkatan nilai tambah di dalam daerah. Penguatan kawasan industri dan pengolahan komoditas menjadi bagian dari strategi agar Bengkulu tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi juga produk jadi.
Hilirisasi berarti lapangan kerja. Hilirisasi berarti perputaran uang tinggal lebih lama di daerah. Hilirisasi berarti transformasi struktur ekonomi.
Data BPS 2025 menunjukkan pertumbuhan ekonomi tetap stabil di atas 4 persen dengan tingkat pengangguran relatif rendah di Sumatera. Belum lompatan besar, memang. Tetapi pembangunan bukan sulap. Ia adalah akumulasi kebijakan yang konsisten.
Bengkulu memiliki sejarah panjang tempat Soekarno pernah menata gagasan kebangsaan. Kini, tantangannya adalah menata gagasan kemandirian ekonomi.
Satu tahun belum cukup untuk menyelesaikan semua pekerjaan rumah. Diversifikasi industri, investasi dan penguatan UMKM masih harus terus didorong.
Namun tepat di hari ini, 20 Februari 2026, satu hal mulai terlihat jelas arah pembangunan Bengkulu lebih tegas. Infrastruktur digeber. Jaminan sosial diperluas. Hilirisasi didorong. Program Bantu Rakyat dipertegas.Belum revolusi. Tapi fondasi sudah dicor. Dan dalam pembangunan daerah, fondasi yang kuat sering kali lebih penting daripada gegap gempita perayaan.
Sidomulyo 20 Februari 2026_*
Penulis Mahasiswa Pascasarjana pada Magister Ekonomi Terapan (MET) dan Magister Manajemen (MM) FEB Universitas Bengkulu
Catatan Riswan
Founder Langit Biru Foundation














