“Kunci suksesmu hari ini ada pada Subuhmu.” Kalimat Helmi Hasan, Gubernur Bengkulu, terdengar sederhana, tapi diam-diam menampar lembut kebiasaan hidup kita. Ia tidak berbicara soal strategi besar atau rumus rumit, hanya tentang satu momen kecil yang sering kita tunda bangun Subuh.
Hidup kebanyakan orang dimulai dengan drama ringan. Alarm berbunyi, mata masih berat, tangan refleks menekan snooze. Lima menit terasa tidak berbahaya, padahal di situlah kebiasaan terbentuk. Kita tidak kalah oleh masalah besar, tapi oleh rasa nyaman kecil yang berulang setiap pagi.
Subuh mengajarkan disiplin tanpa panggung. Tidak ada yang memotret, tidak ada yang memuji. Hanya kita dan pilihan bangun atau menyerah. Lucunya, orang yang kalah oleh selimut di Subuh hari sering mengeluh kenapa hidupnya dikejar-kejar waktu. Sementara yang bangun lebih awal, biasanya punya ruang untuk berpikir, menata rencana dan bernapas sebelum dunia ramai.
Romantisme Subuh hadir dalam kesunyian. Jalan masih lengang, udara masih jujur dan doa terasa lebih dekat. Di jam inilah hidup sering diluruskan kembali. Banyak keputusan penting lahir bukan dari rapat panjang, tapi dari hati yang tenang setelah Subuh.
Sukses bukan keajaiban, melainkan kebiasaan kecil yang dirawat. Subuh bukan hanya soal ibadah, tapi tentang menghormati waktu, melatih tanggung jawab dan membangun mental pemenang sejak pagi.
Di akhir setiap pengingatnya, Helmi Hasan selalu menegaskan pesan yang menggetarkan: “Siapa yang memuliakan Subuhnya, Allah akan memuliakan harinya. Bangunlah lebih awal, karena dari situlah hidup yang lebih baik dimulai.”
Riswan












