Bengkulu Dimananya Indonesia? Pertanyaan yang menyakitkan hati masyarakat Bengkulu apalagi pertanyaan itu tidak bisa dijawab kalangan mahasiswa,pelajar bahkan kalangan pengusaha di luar provinsi Sumatera.
Sebagai orang Bengkulu,ada kecewa dan terkesan Pemerintah tidak maksimal dalam mempromosikan wisata,ataupun budaya Bengkulu ke luar baik nasional maupun Internasional.
Kalaupun ada usaha menarik wisatawan ke Bengkulu juga terkesan sebatas bapak senang dan menghamburkan anggaran,seperti ada kegiatan atraksi 1000 dhol beberapa tahun lalu,dan hasilnya diluar harapan karena kegiatan yang menggunakan anggaran APBD itu hanya berkutat di lokalan kota Bengkulu.
Festival tabot seharusnya menjadi objek wisata Andalan juga tidak bisa berbuat banyak dalam menarik kunjungan wisatawan domistik dan manca negara, ketika 1 Muharam sampai 10 bukan culture Budaya yang ditonjolkan melainkan pasar tumpah yang dipriotitaskan,karena di lokasi itu beredar miliaran Rupiah yang membuat tergiur semua pihak. Frstival Tabot hanya sebagai topeng kegiatan saja.
Tapi sayang Budaya Tabot tidak mendongkrak kunjungan wisata melainkan sering menimbulkan persoalan hukum pasca pelaksaannya (sungguh miris).
Kapan Bengkulu Maju?
Bengkulu tidak akan maju jika hanya bermodal mental kerupuk dan mental asal bapak senang kaki riang. Seandainya s3mua aset aset wisata di tata dan dikelola dengan baik bisa saja ada minat wisatawan berkunjung. Seperti wisata Danau Dendam Tak Sudah,wisata Benteng Malborogh,objek wisata air terjun, dan pemandian Belanda diBengkulu Tengah ditambahnlagi objek wisata pantai yang panjang dari ujung Kaur hingga ujung Mukomuko,tapi sayang semua hanya sebatas harapan.
Jika dibanding dengan daerah lain Bengkulu tidak kalah indahnya,kenapa Bengkulu tertinggal karena mental masih seolah olah paling pintar,ada pembangunan dikritisi,ada titik kunjungan wisata di soroti dengan kritikan tajam bahkan dilaporkan ke Penegak Hukum,padahal pembangunan untuk masyarakat. (Tulisan ini bukan anti kritikan) karena sudah Cukup kita merasakan dipimpin kepala daerah yang hanya memperkaya diri sendiri bersama kroni kroninya dan berakhir di Penjara.
Dulu jalan di Bengkulu Lengang sepi jumlah kendaraan bisa dihitiung dengan jari,tapi sekarang Bengkulu mulai macet, dan kita wajib menerima kemajuan ekonomi yang dibuktikan banyaknya kendaraan roda dua maupun roda empat yang beroperasi dikota Bengkulu,meskipun sebagian masih kredit tapi membuktikan ekonomi Bengkulu sudah berkembang,dan kemacetan salah satu indikator Bengkulu mulai maju dan siap meluncur menjadi kota Besar.
Kota Bengkulu Ada Belungguk Point karya Dedy Wahyudi Walikota Bengkulu,meskipun Belungguk Poin baru sebatas promosi budaya kecil kecilan karena dilokasi Bengguk poin ada ornamen tabot seperti Dhol dan bahasa daerah Belungguk yang artinya Berkumpul. Tapi ada sedikit kekurangan di Belungguk poin seharusnya ada kalimat Bengkulu, jadi penulisannya BELUNGGUK POIBT BENGKULUjadi selaun menciptakan destinasi wisata kita menjual nama Bengkulu diluar.
Tidak hanya Belungguk Poin,di tulisan pantai Panjang,Bandara Fatmawati, Pelabuhan Pulau Baai, seharusnya juga dikalimat Bengkulu,
Jangan sampai ada pertanyaan Bengkulu dimana nya Indonesia tidak bisa dijawab.
Catatan Heyandi Amin












