Saya datang dengan perasaan datar. Dalam kepala saya, ini acara seperti agenda seremonial biasa spanduk rapi, sambutan tertib, foto bersama lalu pulang. Tapi pagi itu di Bumi Merah Putih, semua prasangka saya runtuh pelan-pelan bersamaan dengan suara kecil, lirih, nyaris bergetar, yang memanggil, “Ayah…”.
Anak itu yatim. Bajunya bersih dan disetrika rapi, sepatunya sudah agak kusam seolah sering dipakai berjalan jauh.
Matanya berbinar, tapi menyimpan rindu yang dalam. Ia berdiri di depan Gubernur Bengkulu, Helmi Hasan, tanpa teks, tanpa skenario. Tidak takut. Tidak ragu.
Helmi tidak melakukan gestur pejabat. Ia tidak sekadar menepuk pundak atau mengangguk formal. Ia berjongkok, menatap mata anak itu sejajar, lalu tersenyum hangat. Sebuah senyum yang tidak dibuat-buat. Di momen itulah saya paham Peduli Yatim bukan urusan laporan dan angka. Ini urusan hati yang berani hadir.
Helmi Hasan tidak membawa pidato panjang. Ia membawa cerita. Ia berbicara seperti ayah kadang diselingi canda ringan yang membuat anak-anak tertawa. Tawa polos, bukan tawa formalitas. Ia menyebut mereka “anak-anak kita”, bukan “penerima bantuan”. Kalimat sederhana, tapi terasa seperti pelukan yang lama dirindukan.
Menurut data Pemprov Bengkulu dan BPS, jumlah anak yatim di Provinsi Bengkulu diperkirakan mencapai sekitar 110 ribu jiwa, tersebar di seluruh kabupaten dan kota dari Kota Bengkulu, Rejang Lebong, Bengkulu Utara, hingga Mukomuko dan Kaur. Angka-angka itu sering kita baca cepat, lalu lupa. Padahal di baliknya ada anak yang belajar tanpa ayah, ada yang tidur sambil memeluk tas sekolah, ada yang menahan lapar tapi tetap menyimpan mimpi.
Melalui Peduli Yatim dan program Orang Tua Asuh, ribuan anak yatim terutama pelajar SMA dan SMK kini tidak lagi berjalan sendirian. Mereka punya seseorang yang bertanya, “Sudah makan?” atau “Bagaimana nilai matematikamu?” Pertanyaan sederhana, tapi bagi anak yatim, itu bisa menjadi alasan untuk tetap bertahan.
Saya saat itu dengan dada hangat dan mata yang sedikit basah. Di Bumi Merah Putih, saya menyaksikan sendiri bahwa negara bisa hadir dengan cara paling manusiawi menjadi ayah bagi yang kehilangan ayah. Dan mungkin, itulah bentuk kepemimpinan paling utuh ketika kekuasaan memilih untuk mengasuh, bukan sekadar memerintah.
Catatan Riswan















