Panggil aku Dinda

  • Share

Kisah ini berawal ketika aku diterima disalah satu sekolah swasta ternama dikota Bengkulu, waktu itu usia ku baru menginjak remaja 17 tahun dengan postur tubuh tinggi 168 cm dan berat badan ku ideal dengan tinggi. Aku memiliki rambut hitam lurus sepunggung dengan kulita kuning langsat khas gadis desa.

Diawal bersekolah memang tidak ada yang permasalahan karena semua kebutuhan aku tidak pernah terlambat dan akupun fokus dengan pelajaran dan tugas tugas sekolah,hingga akupun naik ke kelas dua SMA.

Diawal tahun praha itu mulai kurasa kebutuhan sekolah pun mulai tersendat karena kondisi hasil bumi di desa ku mulai mengalami musim paceklik atau gagal panen.kiriman orang tua untuk kebutuhan
Mulai berkurang dan terkadang terlambat, hingga aku harus berhutang ke teman untuk menutupi kekurangan itu.

“Bell, pinjami uang mu untuk membayar foto kopi tugas dan membeli kebutuhan pokok,” kata ku kepada Bella teman sebangku ku.

Bella merupak kawan sekelas ku yang juga berasal dari salah satu kabupaten di propinsi Bengkulu dan orang tuanya juga sebagai petani kebun.
“Berapa,”ujar Bella sambil senyum.

“Aku pinjam 100 ribu Bell,nanti kalau kiriman sudah tiba langsung aku bayar,”ujarku meyakinkan Bella.

Memang Bella banyak membantu meminjamkan uang ketika kiriman dari kampung belum datang.

Hari hari terus berlalu musim paceklik belum berganti, kebutuhan hidup semakin besar, apalagi aku melihat teman sekolah mulai menggunakan peralatan mewah, ada rasa iri ketika melihat teman teman menggunakan peralatan canggih.

“Kapan aku bisa seperti mereka,”bathinku.

Dikala masa sulit aku merasa waktu sangat lama berlalu dan aku harus terpaksa bertahan dengan kekurangan yang sangat menyakitkan, pernah ak hanya makan satu kali sehari untuk menghemat beras yang mulai menipis, pernah aku hanya makan mie instan sekedar menutup rasa lapar yang kurasa.

Berat Tubuh aku
semakin hari terlihat semakin berkurang dan tak jarang aku harus terduduk lama untuk istirahat karena kondisi tubuh lelah dan lapar.

Bella merupakan satu satu teman tempat aku bercerita tenyata tidak sebaik yang aku bayangkan, ternyata Bella yang selalu terlihat berkecukupan bukan karena kiriman dari orang tuanya, tapi Bella memiliki pekerjaan sampingan yang selalu mendatangkan uang.

Pada suatu malam aku nginap di tempat Kos Bella dan kami bercerita bagaimana tentang kehidupan kami dimasa depan hingga cerita bagaimana menghasilkan uang.

” mau uang cepat,” ujar Bella seolah bercanda.
“Ya maulah,” jawabku serius.
“Tapi ini rahasia kita
berdua,”jangan sampai orang tau, sambung Bella serius.
“Ada om om yang butuh teman,”kalau mau kita temui kata Bella sambil senyum tak berdosa.
“Ahh,maksudnya Bell,”jawab ku bingung.
“Iya,uang yang sering aku pinjamkan itu,uang dari om yang pernah aku layani,”jelas Bella makin berani.
“Entalah Bell, aku masih binggung,jujur aku belum pernah bersentuhan dengan lelaki apalagi dengan om om,pacar saja aku tidak punya,”jawabku mengelak.

Mendengar jawaban ku Bella sepertinya kecewa sejak malam itu hubungan perteman kami mulai merenggang, Bella terlihat mulai menjahui aku dan akupun semakin terjepit dengan kondisi musim paceklik di kampung halamanku.

Entah setan mana yang menyeretku ke lembah aib ini, seminggu sejak merenggang hubungan ku dengan Bella aku merasa semakin kesulitan,hingga akhirnya akupun mendatangi kos Bella.

“Ada apa sang Putri ,” sapa Bella ketika melihat alu datang dengan wajah sinis.
“Bell, aku butuh uang, aku butuh pekerjaan,kerja apa saja,”jawab ku memelas.
“Ini,kerja kotor, tidak ada yang ingin kerja sebagai pelayan om om,”jawab Bella seakan menekan sesak dadaku.
“Terserah Bell,aku sangat butuh uang untuk tetap bertahan, aku ingin selesaikan sekolah,Bell,” jawabku dengan berlinang air mata.

Melihat aku aku menitikan airmata Bella pun ikut hanyut dalam kesedihan ku.
“Sore ini, ada om om yang butuh teman,”kata Bella
“Iya,”jawabku singkat dengan ait mata linang, entah sedih entah bahagia yang aku rasa saat itu.

Sore pun tiba,aku Bella berjalan menuju salah satu Pusat pertokoan yang ada dikota Bengkulu,disalah cafe tempat duduk anak muda kami menghampiri seorang bapak bapak yang pantas aku panggil Ayah dengan perawakan tinggi berbadan tegap dan berpenampilan bersih stelan baju kemeja motif kotak kotak berwana Hitam dengan celana pendek, berusia sekitar 50 tahun.
“Ayo duduk sini,”sapa si Om sambil tersenyum lebar ketika melihat kami menghampirinya.
“Mau pesan,”kata si Om sambil memanggil pelayan cafe.

Tak berselang lama,
“Siapa ini Bell,”tanya si om sambil melirik kearahku.
“Kenalan dong Om,”jawab Bella sambil tersenyum genit.
Semua fikiran ku berkecamuk ada cemas, ada takut akan dosa, malu dengan orang tua malu dengan hidup.
Siapa namanya Cantik,”tanya si om sambil ulurkan tangan mengoda.
Aku pun menyambut uluran tangan si Om dan menjawab,
“Panggil Aku Dinda,” ujar ku.

 

Penulisan Heryandi Amin

 

Cloud Hosting Indonesia
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page