Lelaki Tua Itu,…Hmmm

  • Share

Lelaki tua itu tak bisa aku lupa meskipun saat ini aku sudah bersuami dikaruniai seorang anak laki laki.

Entah setiap aku dalam kesendirian bayangan lelaki tua itu selalu muncul.

Kisah berawal ketika aku kuliah disalah satu perguruan tinggi dikota Bengkulu.

Dan malapetaka itu datang tanpa ucapkan salam perkenalan.

Seingatku, setiap lelaki tua itu datang kerumah tempat aku tinggal aku selalu berusaha menghindar,apalagi lelaki tua yang selalu penasaran dengan rupa ku selalu mengejar dan ingin melihat wajahku.

Aku ketika itu maaih berusia 18 tahun dengan wajahku imut kulit putih,maklum aku berasal dari suku yang mayoritas memiliki wajah yang cantik dengan kulit putih bersih.

Tetapi semakin aku menghindar ada juga rasa ingin melihat laki laki hitam yang selalu memanggil nama ku setiap ia berkunjung.

Pada suatu sore diakhir ditahun 2012
Aku tidak sengaja bertemu disaat bos tempat aku bekerja belum pulang kerumah, maklum untuk biaya kuliah,aku menjadi pembantu rumah tangga yang sekarang nama kerennya asisten rumah tangga (ART).

Dipertemuan pertama yang singkat, lelaki tua hanya bertanya dimana bos ku.
“Mama mana,” tanya lelaki tua itu.
“Mama belum pulang,”jawabku dari balik jendela kaca tanpa membuka pintu.
“Jam berapa biasa mama pulang,” tanya lelaki tua itu.
“Entah Om kurang tahu juga,” jawabku singkat agar lelaki tua itu segera pergi.
Melihat kondisi rumah yang sepi itu dimanfaatkan dengan baik oleh lelaki tu dengan bertanya tentang kuliahku.

“Dengar dengar kamu kuliah ya,sudah semester berapa,”tanyanya.

“Iya Om,baru masuk semester pertama,”jawabku.

Hebat kamu bisa mandiri untuk biaya kuliah,” puji lelaki hitam di yang duduk di kursi teras dan pintu masih belum aku buka.

“nggak juga om namanya orang kampung harus bisa mandiri orang aku juga tidak mampu biaya penuh uang kuliah,”jawabku meraaa tersanjung dengan pujian nya.

“Paling tidak biaya kos dan makan sehati hari bisa terbantu meski menjadi pembantu,”jawabku.

“Berapa nomor telponmu,sekalian nomor WA,” tanyanya.
Sekali lagi aku bingung untuk menolak berikan nomor handphone dan nomor Wa.

Tapi lelaki itu terus memaksa dan akupun berikan nomor telpon dan WA padahal aku jarang mau memberikan nomor telpon untuk orang asing yang aku kenal.

Setelah mendapat nomor telpon dan kami saling tukar nomor,lelaki tua itu hanya berpesan jangan ragu untuk menghubunginya jika butuh bantuan.

“Iya om,” jawab ku singkat.

“Oke,Om pulang,pesan sama Mama ada om mampir,” ujar nya dan pergi meninggalkan rumah bos ku.

Sehari,dua hari,seminggu hingga dua minggu lelaki tua yang aku panggil om itu tidak pernah menghubungi aku dan akupun tidak pernah berharap ia akan menghubungiku.

Hingga suatu pagi telpon ku berdering dan nama lelaki tua itu ada di kontak Handphone.

“Asallamualaikum,apakabar,” sapa lelaki tua itu.

“Baik om,”jawabku.

“Kamu tidak kuliah,” lelaki itu kembali bertanya.

“Ini lagi siap mau kuliah om sudah mau berangkat,” jawabku agar telpon segera dimatikan.

“Ok,hati hati dijalan,” jawabnya sembari menutup telpon.

Dalam hati aku pun lega meskipun harus berbohong padahal hari itu jadwal kuliahku tidak ada.

Setelah telpon pagi itu,lelaki tua yang hitam itupun rutin telpon meskipun aku sering menolak untuk ngobrol panjang lebar dengan nya.

Mungkin dia mengerti aku malas ngobrol ketika ditelpon hingga rutinitas nya menelpon sempat dihentikannya.

Berhari hari lelaki tua itu tidak menelpon dan jujur ada rindu ketika lelaki itu tidak lagi menelpon.

Aku rindu mendengar suaranya, aku rindu dengan perhatiannya.
Memang setiap telpon lelaki itu selalu bertanya kamu sudah makan,jangan lupa sarapan sebelum berangkat kuliah,atau mimpi indah ya, perhatian kecil itu ternyata membuat aku nyaman dan mulai merindukan kalimat itu apalagi suara lelaki tua itu terdengar merdu ditelinga ku.

Tidak tahan dengan rindu akupun mencoba menghubungi lelaki tua yang aku panggil om itu.

“Apa kabar om,sapa ku setelah telpon tersambung.

“Alhamdulilah sehat,Maaf April om.lagi diluar kota,” jawab lelaki hitam itu.

“Maaf nganggu om,” jawab ku.

“April malam nanti om pulang, temani om makan malam ya sekalian cari angin,maklum disini terlalu lelah dan membuat strees body dan semuanya” jawab nya.

“Iya om kabari,kalau sudah sampai dan mama juga tidak di Rumah,”ujar aku dengan perasaan deg deg an seperti gadis yang tengah kasmaran.

Hari sudah mulai sore jam di dinding  kamar ku menunjukan pukul 15:30 wib tapi belum ada kabar dari lelaki tua itu.

Gelisah menunggu hingga jam terus berlalu dan hari mulai senja lembayung jingga pun mulai mengintip disela sela kaca jendela ketika aku menutup hordeng jendela.

Akupun dengan cepat selesaikan semua tugas rumah dan mandi dilanjut berndandan  farfum pun tidak lupa aku semprotkan  dari rambut hingga ke kaki.

Jarum jam sudah menunju ke angka 8 tapi belum ada kabar.

“Mungkin lelaki tua itu berbohong ,” ujar ku dalam.hati dengan kesal.
Hingga akhir nya telpon berdering .

“Ayo,om didepan gang” ujar suara di ujung telpon.

“Iya,”jawab ku singkat dan bergegas ganti pakaian dan langsung menuju depan gang tempat lelaki tua itu menunggu.

Malam itu kami berkeling kota Bengkulu dan makan di salah satu tempat makan elit dikota Bengkulu kala itu. Usai makan kami kembali melanjutkan pertualangan hingga larut malam apalagi Mama (bos ku) sedang tidak dibengkulu.

Malam itu lelaki tua itu berusaha merayu ku untuk berbuat dosa,tapi masih bisa aku tolak halus dan sempat masuk ke halaman hotel tapi dibatalknya karena aku menolaknya.

Rupanya banyak jurus yang dikeluarkannya hingga aku pun pasrah.

“April,biaya kuliah mu om yang bayar hingga kamu tamat,” ujar lelaki tua itu serius.

Mendengar itu aku hanya terdiam dan tidak mampu untuk menjawab iya atau tidak, hingga akhirnya lelaki tua itu berhasil merengut kesucian ku malam itu.
Tetesan air mata penyesalan pun tidak berguna lagi karena semua sudah terjadi.

“Pegang janji om, hubungi kalau April butuh biaya,” ujar nya menyakinkan aku.

Usai kejadian laknat itu perhatian om semakin besar dan tidak hanya sekedar telpon tapi uang dan keperluan ku selalu di cukupinya hingga aku tamat kuliah dan mendapat gelar sarjana.

Tapi di setiap aku sendiri aku selalu ingat dengan lelaki tua hitam,meskipun aku sudah berkeluarga dan dianugerahkan seorang anak lelaki.

Hampir sepuluh tahun kejadian laknat itu menimpa ku tapi masih ada rasa yang membekas meskipun lelaki tua itu tidak pernah berkeinginan untuk menikahiku.

Pernah aku merasa cemburu ketika lelaki tua itu posting foto keluarganya di media sosial, dan perkawanan dimedia sosial itu aku hapus agar tidak melihat postingan lelaki tua itu.

Lelaki Tua tidak akan pernah aku lupakan.

Penulis
Heryandi Amin
Wartawan Utama

 

 

Cloud Hosting Indonesia
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page