Alaku
Alaku
Alaku

17 Agustus Hanya Cerita Berbalut  Warna Merah Putih, Antar Skeptisme dan Harapan

  • Share

Pentingkah Lomba menjelang 17 Agustus?

Menjelang 17 Agustus setiap tahunnya selalu di sibukan dengan berbagai perlombaan dari pelososk desa hingga pelosok ruang perkantoran. Jika dilihat kasat mata memang meriah semua warga berkumpul , tua muda , beda keyakinan tidak menjadi penghalang untuk berkumpul menyaksikan perlombaan.

Tapi perlombaan menjelang 17 Agustus itu terkesan menjadi agenda rutinitas dengan bentuk yang sama  tanpa mengedepankan pendidikan dan pemahaman esisiensi sebuah kemerdekaan.

Seperti lomba memasak , lomba makan kerupuk, lomba sepak bola memakai daster atau sarung untuk bapak bapak,  atau yang lebih ekstrim lomba  memanjat pohon pinang dan semmua perlombaan bisa membuat penonton tertawa.

Apakah tidak ada cara yang lebih elegan dalam merayakan hari kemerdekaan ini ?

Jika hanya perlombaan yang di tonjolkan pada setiap tahun menjelang peringatan HUT RI, dikhawatirkan suati hari nanti generasi muda kita akan ingat kemerdekaan itu didapat dari hura hura dan perlombaan bukan dari sebuah perjuangan yang memakan banyak korban jiwa , korban harta benda hingga air mata.

Jika diera 80-90 an menjelang HUT kemerdekaan pemerintah menayangkan  pemutaran film perjuangan menggunakan layar tancap, dan secara tidak langsung menumbuhkan rasa nasionalisme dibenak generasi muda pada masa itu.

Tapi.. 17 Agustus sekarang hanya diisi dengan perlombaan,tanpa menekankan arti kemerdekaan itu sendiri padahal masih banyak cara merayakan kemerdekaan seperti napak tilas perjuangan rakyat Bengkulu dalam  melawan penjajah, atau mengenalkan tokoh tokoh perjuangan yang ada di Bengkulu yang namanya sudah terkubur dan tidak dikenal lagi.

Dan saya yakin Bengkulu memiliki sejarah panjang dalam melawan penjajah apalagi di Bengkulu terdapat banyak benteng yang dibangun penjajah selama diBengkulu. Dan itu hal penting yang harus diketahui generasi muda kita, bukan hanya perlombaan lari karung atau tarik tambang.

Kok Skeptis ?

Sikap skeptis ini karena banyak perlombaan 17-an saat ini yang telah bergeser menjadi sekadar rutinitas tanpa makna, pemborosan, bahkan memicu konflik internal warga. Ketika sebuah tradisi hanya menyisakan hura-hura tanpa esensi, wajar jika kita mulai mempertanyakan urgensinya.

Jika dibedah secara kritis, ada tiga alasan utama mengapa timbul  skeptisisme terhadap lomba 17-an ini, mengumpulkan masa pada kegiatan 17 Agustus tidak murni karena rasa tapi masa berkumpul  karena hadiah. Karena hadiah perlombaan sering kali menjadi magnet utama, bukan lagi semangat kebersamaannya. Dan hal ini mendidik masyarakat menjadi oportunis (hanya bergerak jika ada imbalan barang atau uang).

Perlombaan peringatan HUT RI 17 Agustus tujuannya hanya untuk “lucu-lucuan” terkadang justru menjatuhkan martabat peserta (misal: lomba dandan menutup mata, makan kerupuk yang diikat di kaki, lomba sepak bola untuk bapak bapak pakai daster ) alih-alih membangun karakter yang bermartabat malah terlihat seperti Badut.

Menjelang 17 Agustus semua tampak meriah dengan umbul-umbul dan teriakan pemenang lomba, namun masalah nyata di lingkungan tersebut terabaikan seperti sampah menumpuk,

Penulis  Heryandi Amin

 

Cloud Hosting Indonesia
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Alaku

You cannot copy content of this page