Penjilat adalah seseorang yang suka mencari muka atau memuji atasan/orang berkuasa secara tidak tulus demi mendapatkan keuntungan pribadi, promosi, atau perhatian khusus.
Karakteristik ini sering ditandai dengan perilaku munafik, selalu setuju, dan kurangnya integritas, yang umumnya dianggap merusak lingkungan kerja.
Sinonim dan Istilah Terkait (Bahasa Indonesia):
Mencari muka
Bermuka dua
Penjilat ulung
Pengambil hati (atasan)
Contoh Penggunaan/Ciri Penjilat:
- Tempat Kerja: Memuji atasan secara berlebihan, selalu menyetujui semua pendapat atasan tanpa kritik, dan mengambil kredit atas pekerjaan orang lain.
- Sosial/Umum: Berpura-pura baik dan memuji orang kaya atau berkuasa untuk mendapatkan fasilitas atau kedudukan.
- Konteks Instagram: Sering digambarkan sebagai sosok yang tidak konsisten, berpura-pura, atau menghalalkan segala cara untuk dekat dengan pihak berkuasa.
Penjilat juga sering dikaitkan dengan perilaku tidak profesional di kantor yang merugikan rekan kerja karena mereka fokus pada intrik daripada kinerja.
Si penjilat ini akan nyaman bertahan bersama pemimpin yang hobi dinjilat dan di sanjung karena
Pemimpin yang menyukai penjilatan sering dikaitkan dengan tipe toxic leadership yang arogan, narsis, dan tidak menerima kritik. Fenomena ini merusak lingkungan kerja karena pemimpin lebih menghargai pujian palsu daripada kinerja, sering kali memberikan jabatan kepada penjilat, serta menciptakan budaya kerja yang tidak sehat.
Ciri-ciri Pemimpin yang Suka Dijilat:
- Gila Hormat & Antikritik: Memiliki ego tinggi dan tidak menyukai masukan yang jujur, lebih senang mendengar pujian.
- Favoritisme: Memberikan perlakuan khusus atau jabatan kepada mereka yang pandai mengambil hatinya, bukan berdasarkan kompetensi.
- Toxic Leadership: Cenderung arogan, manipulatif, dan melakukan micromanagement.
- Menciptakan Echo Chamber: Mengelilingi diri dengan orang-orang yang selalu setuju, menyebabkan keputusan yang diambil tidak objektif.
Dampak dari Pemimpin seperti Ini:
- Penurunan Produktivitas: Penjilat fokus menyenangkan atasan daripada bekerja, sehingga kinerja tim menurun.
- Matinya Demokrasi/Kritik: Sikap ini membunuh budaya keterbukaan dan transparansi.
- Budaya Kerja Toksik: Menciptakan lingkungan yang tidak sehat, di mana profesional sejati merasa tidak dihargai.
Orang yang “menjilat ke atas” sering kali bertindak sewenang-wenang ke bawahan sebagai cara menunjukkan kekuasaan palsu. Secara psikologis, tindakan ini bisa juga merupakan mekanisme pertahanan diri untuk merasa aman.
Dua sifat yang saling berhubungan ini sama dengan simbiosis mutualisme antara jalak dan kerbau, tetapi untuk sebuah wilayah dengan kondisi pemimpin dan bawahan memiliki sifat penjilat dan suka dijilat dipastikan wilayah akan mengalami kemunduran yang signifikan, dan bisa bisa terjerumus kejurang yang dalam atau di balik jeruji.
Penulis Heryandi Amin sebagian Bahan dari google














