Bismillahirrahmanirrahim.
Saudara-saudaraku, sahabat-sahabatku di tanah Bengkulu yang penuh berkah.
Saya ingin cerita sedikit. Beberapa hari ini, HP saya panas terus. Grup WA penuh dengan berita. Ada yang sedih, ada yang marah, ada pula yang senang. Ada apa? Pabrik minyak goreng BMP yang baru saja kita saksikan bersama diresmikan oleh Pak Gubernur Helmi Hasan dengan penuh harapan… tiba-tiba disegel.
Ya, disegel. Pak polisi memasang garis kuning. Lalu, secara ajaib, tiba-tiba banyak orang yang menjadi “ahli administrasi” dadakan. Ada yang bilang izin edarnya belum ada. Ada yang protes soal status maklon. Ada yang mencari-cari “celah” ini dan itu.
Saudaraku, saya ingin mengajak Anda berhenti sejenak. Tarik napas. Lalu saya bertanya dengan tulus: Sejak kapan kita begitu bersemangat mencari kesalahan saudara sendiri, tapi malas mencari jalan keluar?
Sejak kapan kita lebih cepat menyebar aib dari pada membantu menutupinya?
Zaman Nabi Tidak Seribet Ini
Saya ingin mengajak kita semua merenung. Sebuah renungan ringan tapi dalam.
Bayangkan, di zaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam — zaman yang penuh dengan keberkahan — orang berjualan minyak. Minyak zaitun, minyak samin. Saat itu, tidak ada KTP, tidak ada SIUP, tidak ada izin BPOM. Lalu apa ukurannya? Hanya satu: halal atau haram? Membahayakan atau tidak?
Jika minyaknya jernih, rasanya enak, tidak dicampur lemak haram atau bangkai, maka silakan jual. Silakan bersaing. Rakyat yang akan memilih. Pasar yang akan menentukan. Barang yang bagus akan laku. Barang yang jelek akan hilang dengan sendirinya. Tanpa perlu disegel. Tanpa perlu dijelek-jelekkan oleh tetangga sendiri.
Lho, Ustaz, sekarang kan sudah ada aturan. Iya, saya tahu. Tapi ingat pepatah bijak: “Aturan itu untuk melindungi, bukan untuk menjerat.” Jangan sampai kita menggunakan aturan sebagai pentungan untuk mematikan napas anak-anak kita sendiri.
Apa Untungnya Kalau Pabrik Ini Hidup? Ini Dia…
Saudaraku, mari kita hitung dengan hati, bukan dengan dengki. Jika Pak Gubernur optimis minyak BMP ini menjadi produk unggulan, beliau tidak sedang bermimpi. Beliau melihat rantai kehidupan yang akan tersambung. Saya sebutkan satu per satu, bayangkan:
1. Para Petani Sawit: Selama ini, petani kita kadang mengeluh harga TBS (Tandan Buah Segar) jatuh. Dengan pabrik ini, ada kepastian. Sawit mereka dibeli, puluhan ribu ton terserap. Hidup mereka tidak main-main lagi. Itu lapangan kerja bagi para kakek dan ayah yang menghidupi anak-istri dari kebun.
2. Pekerja Pabrik: Mulai dari operator mesin press, staf quality control, hingga tim gudang. Ini untuk anak-anak muda kita lulusan SMK dan D3 yang ingin kerja dekat kampung halaman.
3. Pabrik Pemurnian (Refinery): Di sini butuh tenaga ahli kimia, teknisi listrik, mekanik. Ini lowongan bagi sarjana-sarjana Bengkulu yang selama ini terpaksa jadi tukang ojek atau jaga toko di perantauan.
4. Pabrik Pengemasan BMP: Label, botol, kardus. Semua butuh tangan-tangan terampil. Ibu-ibu dan adik-adik kita yang telaten bisa bekerja di sini.
5. Sopir Truk & Buruh Angkut: Minyak yang sudah jadi harus dikirim ke pasar. Berapa banyak supir yang akan punya proyek setiap hari? Berapa banyak buruh pelabuhan yang buka pintu rezeki?
6. Agen dan Pasar: Warung-warung kecil, agen sembako, supermarket di seluruh Bengkulu. Mereka akan memajang produk daerah sendiri. Keuntungannya tetap untuk Bengkulu.
Saudaraku, itu semua bukan omong kosong. Itu adalah tubuh ekonomi riil yang akan bergerak. Setiap hari, dari pabrik ini, akan ada uang yang keluar untuk beli solar, beli listrik, bayar gaji, bayar pajak daerah. Dan setiap rupiah itu akan berputar: ke bakso langganan, ke beras di warung, ke uang sekolah anak.
Apakah Anda tahu? Alhamdulillah, Bengkulu kita sudah mencatat prestasi membanggakan. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) kita saat ini adalah yang terendah se-Sumatera, hanya sekitar 3,24 persen. Itu berkat kerja keras semua pihak, termasuk Pak Gubernur. Nah, dengan hadirnya pabrik ini, angka itu bisa kita turunkan lagi. Bisa jadi 3 persen. Bisa jadi 2,5 persen. Setiap orang yang bekerja adalah satu doa yang tidak terputus. Setiap orang yang menganggur, beban kita bersama.
Tapi… Kalau Pabrik Ini Terus Disegel, Siapa yang Merugi?
Saudaraku, di sinilah letak kesedihan saya.
Semakin lama barang ini tertahan di gudang, semakin besarnya kerugian yang kita tanggung bersama. Bukan pengusaha saja yang rugi. Bukan Pak Gubernur saja yang malu. Tapi seluruh Bengkulu.
· Petani sawit tidak bisa mengirim hasil panen ke pabrik.
· Sopir truk kehilangan order.
· Laki-laki dan perempuan yang seharusnya mulai kerja, masih menganggur.
· Uang yang seharusnya mengalir, tersendat. Lalu, ekonomi kita jalan di tempat.
Saudaraku, kerugian waktu adalah kerugian paling mahal. Kita tidak boleh membiarkan kesempatan emas ini hangus hanya karena kesibukan kita mencari-cari “keburukan” dari pabrik sendiri.
Sekarang, Mari Perbaiki Mental Kita: Jangan Sampai Mental Terjajah Kita Pelihara!
Nah, ini yang paling penting, saudaraku.
Kita semua tahu sejarah. Inggris pernah berkuasa di Bengkulu. Mereka tinggal di Benteng Marlborough yang kini jadi saksi bisu. Belanda juga pernah datang. Mereka sudah pergi. Lenyap. Tidak berbekas.
Tapi, jangan-jangan… mental terjajah masih setia menetap di hati kita?
Mental terjajah itu seperti apa?
Mental terjajah itu suka melihat saudaranya sukses sebagai ancaman, bukan sebagai kebanggaan.
Mental terjajah itu lebih cepat merusak dari pada membangun.
Mental terjajah itu selalu cari alasan kenapa sesuatu tidak mungkin, daripada cari cara kenapa sesuatu bisa terjadi.
Apakah kita seperti itu? Coba lihat ke cermin.
Ketika tetangga membuka warung, apakah kita doakan laris atau kita cari-cari apakah dagangannya halal?
Ketika ada anak muda buka usaha, apakah kita bantu promosikan atau kita komplain ini kurang itu kurang?
Saudaraku, Bangsa Indonesia merdeka karena Bung Karno melihat peluang di balik kesulitan. Beliau tidak sibuk menyalah-nyalahkan penjajah terus. Beliau berkata: “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”
Itulah mental pembelajar peluang. Bung Karno hidup dari optimisme, bukan dari ketakutan.
Maka, mari kita ubah sikap kita. Inilah yang harus kita lakukan mulai hari ini:
Pertama, ubah dari mencaci menjadi membantu.
Jika izin edar belum ada, jangan ramai-ramai menyalahkan. Tapi tanyakan: “Pak, apa yang bisa saya bantu? Apakah perlu saya yang mengantar berkas ke BPOM?”
Jika ada kekurangan administrasi, ingatkan dengan kasih sayang, bukan dengan kebencian. Kita satu keluarga besar Bengkulu. Kalau ada anggota keluarga yang salah, kita bimbing, bukan kita lempari batu.
Kedua, selama hasil lab BPOM bagus, edarkan saja.
Selama tidak mengandung lemak haram, tidak mengandung bangkai, tidak memabukkan, dan hasil laboratoriumnya aman, maka silakan jual. Biar rakyat yang memilih. Biar pasar yang memberi putusan. Jangan kita yang membuat putusan dengan “penyegelan prematur”.
Kekurangan administrasi bisa diperbaiki sambil berjalan. Ingat, lebih baik berjalan sedikit-sedikit daripada diam di tempat sambil menyalahkan batu.
Ketiga, saling menutup aib. Ini perintah agama. Ini juga akhlak bangsa yang besar. Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat.”
Jika kita lihat saudara kita punya kekurangan di pabrik minyaknya, kita sampaikan secara langsung ke pengusahanya, ke Pak Gubernur. Jangan diumbar di media sosial. Jangan jadi “juru bicara aib”. Jangan sampai kita mendapatkan dosa jariyah, sementara saudara kita malu berkepanjangan.
Penutup: Ayolah, Bangkit! Jangan Jadi Penonton
Saudaraku, sesama anak negeri yang saya cintai karena Allah.
Kita memiliki cita-cita: Bengkulu maju, religius, sejahtera, dan berkelanjutan.
Itu tidak akan terjadi jika kita hanya menjadi penonton. Itu tidak akan terjadi jika kita lebih senang menyaksikan “tontonan” penyegelan dan kegagalan orang lain.
Mari, mulai hari ini, kita menjadi pemain. Mari kita dukung minyak goreng BMP. Beli produknya jika cocok. Sebarkan kebaikannya jika memang bagus. Bantu perbaiki jika ada kekurangan. Doakan agar usaha ini menjadi berkah bagi seluruh rakyat Bengkulu.
Ingat, ketika pabrik ini hidup, banyak perut yang kenyang. Banyak anak yang bisa sekolah. Banyak wajah yang tersenyum. Itulah sedekah jariyah kita, dengan ikhlas mendukung saudara sendiri.
Wahai rakyat Bengkulu, mari kita buang jauh-jauh mental terjajah kita. Mari kita sambut mental merdeka: optimis, gotong royong, dan saling menguatkan.
Tutup mata, bayangkan Bengkulu 5 tahun ke depan: pabrik berasap, truk lalu lalang, buruh bergegas pulang membawa rezeki. Itu mimpi kita. Itu tanggung jawab kita.
Hayolah, hayolah… Bangkit!
Bengkulu Maju, Berkah, Berkelanjutan.
Jakarta, 5 Mei 2026
Wslm
Penulis Ustaz Saeed Kamyabi, Pendamping Bidang Keagamaan Islam Provinsi Bengkulu














